Eksposisi Efesus 5: 22 – 24 Tentang Keluarga dan Pernikahan
Oleh : Pdt. Romeo Mazo
Pernikahan Kristen bukan sekadar hubungan manusiawi, tetapi mencerminkan hubungan antara Kristus dan Gereja. Efesus 5:22-24 menegaskan bahwa istri harus tunduk kepada suami sebagaimana Gereja tunduk kepada Kristus, tetapi perintah ini tidak boleh disalahgunakan untuk menindas istri. Sebaliknya, pernikahan harus dijalani dalam kasih dan pengorbanan sebagaimana Kristus mengasihi Gereja. Paulus memberikan tiga ayat kepada istri, tetapi suami mendapat perintah lebih banyak (ayat 25-32). Ini menunjukkan bahwa tanggung jawab suami lebih besar: ia harus mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi Gereja, dengan pengorbanan, bukan sekadar romantisme. Sayangnya, banyak suami hanya menekankan ayat 23 tentang kepemimpinan tanpa memahami konteksnya secara menyeluruh. Dalam bahasa Inggris, pernikahan memiliki dua istilah: wedding (upacara) dan marriage (kehidupan pernikahan). Pernikahan Kristen lebih menekankan marriage yang merupakan komitmen seumur hidup, bukan sekadar kemewahan pesta. Selain itu, pernikahan Kristen adalah covenant (perjanjian kudus) yang tidak boleh diputuskan manusia begitu saja, sebagaimana Yesus tegaskan dalam Matius 19:6.
Pernikahan yang sehat digambarkan seperti segitiga, dengan Tuhan di puncak dan suami-istri di dua sisi bawahnya. Semakin mereka mendekat kepada Tuhan, semakin erat hubungan mereka. Sebaliknya, jika Tuhan bukan pusat, hubungan mereka mudah goyah. Meski ada kasus perceraian dalam Kristen—misalnya karena perzinahan (Matius 5:32)—Tuhan tidak menghendakinya. Namun, karena ketegaran hati manusia, dalam kondisi tertentu perceraian diperbolehkan. Ketundukan istri kepada suami bukan berarti merendahkan dirinya, tetapi bagian dari rancangan Tuhan. Jika seorang wanita tidak siap tunduk kepada suaminya, lebih baik ia tidak menikah. Namun, ketundukan ini bukan berarti istri harus menerima segala sesuatu tanpa syarat. Jika suami tidak hidup dalam kebenaran, istri tidak wajib tunduk dalam hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Ketundukan juga tidak menghilangkan suara istri dalam rumah tangga. Ada banyak contoh wanita hebat, seperti Margaret Thatcher, yang tetap tunduk kepada suaminya dalam rumah tangga meskipun memiliki pengaruh besar di luar. Di zaman modern, tantangan semakin besar karena banyak istri yang bekerja dan memiliki penghasilan lebih besar daripada suami. Namun, ketundukan tidak didasarkan pada faktor duniawi seperti gaji, tetapi pada rancangan Tuhan.
Dalam keluarga, Tuhan menetapkan suami sebagai kepala rumah tangga bukan karena ia lebih berharga, tetapi karena tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Kata “submission” dalam bahasa Inggris berasal dari “to put under,” yang berarti menempatkan diri di bawah otoritas. Hal ini tidak berarti kehilangan nilai, tetapi menjalankan peran yang telah Tuhan tetapkan. Konsep ini mirip dengan “understand” yang berarti memahami dengan menempatkan diri dalam posisi rendah untuk belajar. Ketundukan istri kepada suami mencerminkan hubungan Gereja dengan Kristus. Rasul Petrus dalam 1 Petrus 3:1 menegaskan bahwa ketundukan istri bisa menjadi kesaksian bagi suami yang belum percaya. Ini bukan tanda kelemahan, melainkan kesaksian hidup dalam ketaatan kepada Tuhan.
Pengalaman pribadi saya bersama istri, Ibu Maria, saat memutuskan kembali ke Indonesia setelah melayani di Singapura selama 21 tahun adalah bukti ketundukan yang sejati. Kami tidak memilih kenyamanan, tetapi menaati panggilan Tuhan. Saat kami mengumumkan kepindahan ini, banyak jemaat menangis karena ikatan yang telah terjalin dalam pelayanan. Keputusan ini menunjukkan bahwa ketaatan bukan tentang mencari keuntungan pribadi, tetapi mengikuti kehendak Tuhan. Dalam Efesus 5:21, Paulus mengajarkan prinsip saling merendahkan diri dalam takut akan Kristus. Ini menjadi dasar dalam berbagai hubungan, termasuk antara suami dan istri, anak dan orang tua, serta jemaat dan pemimpin gereja. Ketakutan akan Tuhan bukan berarti takut akan hukuman, tetapi rasa hormat yang mendalam.
Budaya modern semakin menjauh dari kebenaran Tuhan, termasuk dalam isu pernikahan dan gender. Banyak negara kini menerima pernikahan sesama jenis, bahkan gereja-gereja tertentu menyetujuinya. Kita harus tegas dalam sikap ini: mengasihi semua orang, tetapi tidak menyetujui dosa. Sama seperti kita menerima pendosa lainnya tanpa membenarkan dosanya, demikian pula dalam hal ini. Kekerasan dalam rumah tangga juga menjadi tantangan. Saya pernah menangani kasus seorang istri yang menangis karena dipukul suaminya. Saya menegur suaminya dengan keras, mengingatkan bahwa istri adalah anak perempuan dari seseorang yang telah membesarkannya dengan kasih. Bagaimana mungkin seorang suami yang seharusnya melindungi justru menyakiti? Allah Bapa, Yesus, dan Roh Kudus sendiri marah ketika melihat ketidakadilan, dan kemarahan yang benar adalah bagian dari kepedulian terhadap kebenaran.
Dalam Kejadian 2:22-24, Hawa diciptakan dari rusuk Adam, bukan dari kepala untuk memerintah, bukan dari kaki untuk diinjak, tetapi dari sisi, dekat dengan hati untuk dikasihi dan dilindungi. Kata “penolong” dalam bahasa Ibrani adalah “ezer,” yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan untuk menolong, bukan sekadar pembantu. Banyak orang salah memahami peran istri sebagai sekadar pengurus rumah tangga. Namun, istri memiliki kelebihan yang tidak dimiliki suami, dan perannya sangat penting dalam membangun keluarga yang harmonis. Seorang pembawa acara pernah bertanya kepada seorang pria tentang kriteria istrinya. Pria itu berkata bahwa ia menginginkan istri yang pandai memasak, menjaga anak, dan mengurus rumah. Sang pembawa acara pun menjawab, “Maaf, Pak, yang Bapak cari itu bukan istri, tetapi pembantu.” Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang salah memahami peran istri dalam pernikahan. Kesuksesan keluarga sering kali sangat bergantung pada peran istri dan ibu. Banyak anak-anak yang tumbuh dengan baik karena peran ibu yang mendidik mereka dengan penuh kasih. Seorang pendeta pernah mengalami bagaimana sulitnya mengurus anak ketika istrinya pergi untuk suatu pelayanan. Ia menyadari bahwa menjaga dan mendidik anak adalah tugas yang sangat berat, yang menunjukkan betapa besarnya peran seorang ibu dalam keluarga. Dalam Kejadian 2:18 dikatakan bahwa Tuhan menciptakan perempuan sebagai “penolong yang sepadan” bagi laki-laki. Dalam bahasa Inggris, kata “helper” sering kali disalahartikan sebagai pembantu. Padahal, dalam konteks Alkitab, seorang penolong memiliki kekuatan dan kelebihan yang tidak dimiliki orang yang ditolong. Dengan demikian, istri bukanlah bawahan suami, tetapi mitra yang setara dalam membangun keluarga.
Mengapa Hawa diciptakan dari rusuk Adam dan bukan dari bagian tubuh lainnya? Secara teologis, hal ini melambangkan peran istri dalam hubungan pernikahan dan juga dalam hubungan Kristus dengan gereja. Ketika Yesus disalibkan, tombak menusuk rusuk-Nya, dan dari situ keluar darah dan air. Ini adalah simbol kasih dan pengorbanan Kristus bagi gereja, yang di dalam Alkitab disebut sebagai mempelai wanita-Nya. Sama seperti Hawa diambil dari rusuk Adam, gereja juga lahir dari pengorbanan Kristus di kayu salib. Rusuk berfungsi melindungi jantung, yang melambangkan kasih dan kehidupan. Ketika Yesus ditusuk di bagian ini, hal itu menunjukkan betapa besar kasih-Nya bagi gereja. Kasih suami kepada istri juga harus mencerminkan kasih Kristus kepada gereja, yaitu kasih yang rela berkorban. Kalau kita memahami penderitaan Yesus Kristus di atas kayu salib, keluarga sangat bahagia. Istri yang sudah berdosa di atas kayu salib rusuk yang sama mengalir darah dan mengalir air. Itu adalah pengudusan dan penyelamatan. Itulah kenapa kita ambil perjamuan kudus pada hari ini.
Tayangan lengkap dapat disaksikan pada : https://www.youtube.com/live/zmAe7BCry3g?feature=shared
