Markus 2
Vic. Vicky Lwieka
Semua orang Yahudi menantikan Mesias, tetapi Yesus tidak sesuai ekspektasi mereka. Mereka ingin pembebasan dari Roma seperti Musa membebaskan Israel dari Mesir, tetapi Yesus justru menyerukan pertobatan. Memasuki pasal 2, kita diajak oleh penulis Markus untuk merasakan kesulitan orang Yahudi mengikut Yesus, sebab bagaimanapun mereka menantikan kedatangan Mesias, Yesus adalah tokoh yang begitu polemik dan tidak sesuai ekspektasi mereka, terkhusus para ahli Taurat. Di sisi lain, orang banyak terus mengikut Yesus karena mukjizat-Nya, dan tidak terlalu ambil pusing apakah Yesus Mesias sejati atau palsu.
Blasphemous? (1-12)
Sin Over Suffering. Yesus kembali ke Kapernaum dan berkhotbah. Namun, empat orang membawa teman mereka yang lumpuh, membongkar atap, dan menurunkannya ke hadapan Yesus, tanpa sadar mengganggu khotbah Yesus. Setan menghadapkan Yesus dengan dua pilihan: Jika Yesus hanya menyembuhkan, Dia dianggap pembuat mukjizat ketimbang pemberita Injil; jika tidak, Dia dianggap tidak berbelas kasih. Tetapi Yesus tidak menyembuhkan terlebih dahulu, dan tidak juga mengusir mereka yang telah mengganggu khotbah, Yesus berkata, “Dosamu sudah diampuni”, menekankan bahwa kebutuhan utama manusia adalah pengampunan dosa, bukan sekadar kesembuhan fisik. Banyak orang Kristen tidak suka khotbah tentang dosa, mereka mau khotbah praktik, bagaimana saya lebih bermoral, dan beretika, atau bahas tips keluarga, parenting, keuangan, berdasarkan Alkitab, “nah ini baru bagus!”. Saya tidak tahu saudara datang ke gereja ini cari khotbah apa? Datang ke gereja lain cari apa?
Pharisee and Crowd. Ahli Taurat peka terhadap ucapan Yesus dan menuduh-Nya menghujat, sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa. Namun, mereka lebih sibuk mempertanyakan otoritas Yesus daripada mengakui Dia sebagai Mesias. Sebaliknya, orang banyak lebih terpesona oleh mukjizat-Nya tanpa memahami pesan-Nya. Mereka ingin Mesias yang membebaskan Israel secara politis, pembuat mukjizat, bukan yang menawarkan pengampunan dosa. Orang Yahudi sulit menerima Yesus sebagai Tuhan karena tidak bisa membayangkan Tuhan menjadi manusia dan mati disalib. Jadi sebenarnya masuk akal juga orang Yahudi sulit terima Yesus Tuhan. Yesus tidak langsung kasih tahu dia Mesias atau bukan, Tuhan atau bukan, Dia ajak kita semua pikir dahulu, siapa Dia bagimu? Yesuskah jawaban permasalahan hidupmu dan Dia segala-galanya bagimu? Atau, kenikmatan dunia jawaban permasalahan kita, dan hanya karena kita rasa perlu beragama makanya kita pilih agama Kristen?
The Lame and His Friends. Yesus tidak hanya menunjukkan bahwa pengampunan dosa lebih utama dari kesembuhan fisik, tetapi juga mengoreksi motivasi mereka. Mereka mencari tabib untuk kesembuhan, tetapi Yesus menekankan kita harus lihat Yesus sebagai dokter rohani ketimbang fisik. Mukjizat bukan tujuan utama Yesus, melainkan bukti bahwa Dia berkuasa mengampuni dosa. Gereja seharusnya membawa jiwa kepada Kristus, bukan sekadar mencari mukjizat. Setelah mendengar khotbah ini, hendaknya kita seperti empat teman si lumpuh yang mengasihi dan membawa jiwa-jiwa kepada Yesus.
Friend of Sinners? (13-22)
180 Derajat Tidak Sesuai Harapan. Yesus kembali mengajar, menunjukkan bahwa pengajaran firman adalah hal utama. Saat berjalan, Ia melihat Lewi, seorang pemungut cukai yang dibenci karena dianggap pengkhianat bangsa. Namun, Yesus justru memanggilnya menjadi murid. Nama “Lewi” mengandung harapan sebagai imam, tetapi hidupnya berlawanan dengan itu. Saat Yesus memanggilnya, Lewi pasti terkejut, terharu, dan bersukacita. Ia kemudian dikenal sebagai Matius, penulis Injil. Yesus memanggil bukan yang merasa benar, tetapi mereka yang sadar berdosa. Nanti kelihatan dari respons kita, waktu Tuhan bilang “Aku mau terima kamu”, kalau respons kita, “oh, ya saya tahu kok” atau, “kenapa bisa? kenapa Tuhan mau terima saya?”.
180 Derajat Perubahan Hidup. Lewi awalnya duduk, lalu berdiri, dan berjalan mengikuti Yesus (ayat 14). Ini berlawanan dengan Mazmur 1:1, yang menggambarkan orang fasik sebagai mereka yang berjalan, berdiri, dan duduk dalam dosa. Yesus mengubah arah hidup Lewi sepenuhnya, bukan menjadi langsung sempurna, tetapi mengalami perubahan hati. Perubahan sejati terjadi jika kita tinggal dalam firman Tuhan (Mazmur 1).
180 Derajat Di Luar Dugaan. Setelah bertobat, Lewi mengadakan perjamuan bagi teman-temannya yang juga pemungut cukai dan orang berdosa, sebagai tanda perpisahan dari kehidupan lamanya. Namun, ahli Taurat mengkritik Yesus karena makan bersama mereka. Bagi mereka, Mesias seharusnya tidak bergaul dengan orang berdosa. Banyak orang pun kecewa pada gereja karena melihat pengikut Kristus masih berdosa. Namun, gereja bukanlah kumpulan orang suci, melainkan mereka yang sadar berdosa dan menerima anugerah Tuhan. Tidak semua jemaat langsung dewasa rohani. Bahkan Petrus dan Andreas mungkin awalnya tidak suka melihat Lewi dipanggil. Tetapi Yesus datang bukan untuk mereka yang merasa benar, melainkan bagi mereka yang mengakui keberdosaannya (ayat 17).
Lawless Man? (23-28)
New Wine for New Wineskins. Ahli Taurat kembali mengkritik Yesus, kali ini karena murid-murid-Nya tidak berpuasa dan melanggar hari Sabat. Yesus menjawab dengan perumpamaan tentang mempelai pria, pakaian baru, dan anggur baru dalam kantong kulit yang baru. Ia menjelaskan bahwa puasa adalah lambang duka, sedangkan anggur melambangkan sukacita. Kehadiran-Nya seperti perjamuan pernikahan—bukan saatnya berduka, tetapi bersukacita. Yesus membawa pembaruan, bukan sekadar memperbaiki yang lama. Hanya mereka yang telah lahir baru (kantong anggur baru) yang dapat menerima sukacita sejati (anggur baru) mengikut Tuhan (termasuk puasa).
Satan Behind Opposition. Di Perjanjian Lama, pengantin pria melambangkan Tuhan, dan umat-Nya adalah mempelai wanita. Ahli Taurat memahami ini dan semakin tidak senang karena Yesus menyamakan diri-Nya dengan Tuhan serta mengklaim sebagai Tuan atas hari Sabat. Mereka menuduh Yesus melanggar hukum dan bahkan menganggap-Nya kerasukan Setan. Namun, di balik kemarahan mereka, ada kemarahan Setan karena siasatnya dihancurkan oleh Yesus:
- Setan menipu manusia bahwa mereka harus menghindari penderitaan, kalau perlu berbuat dosa. Yesus mengajarkan bahwa yang harus dihindari adalah dosa, bahkan jika perlu menanggung penderitaan.
- Setan menyesatkan orang berdosa yang sadar dosa agar menjauh dari Tuhan, sementara orang yang merasa benar justru semakin sombong. Yesus mengajarkan bahwa Tuhan justru dekat bagi mereka yang sadar dosanya.
- Setan membuat perintah Tuhan terasa sebagai beban seperti hukum Sabat, tetapi Yesus menegaskan bahwa hukum Sabat diberikan untuk kebaikan manusia.
Lord of Sabbath. Yesus menekankan bahwa Sabat adalah untuk manusia, bukan sebaliknya. Sama seperti orang tua memberi aturan demi kebaikan anak, Tuhan memberikan perintah-Nya untuk kesejahteraan kita. Sabat bukan sekadar istirahat, tetapi waktu untuk mempererat hubungan dengan keluarga dan Tuhan. Tanpa perhentian yang benar, manusia akan masuk dalam kesibukan dan kenikmatan dunia yang menghancurkan. Tertulian, seorang bapak gereja, awalnya heran mengapa orang Kristen tetap setia meskipun dianiaya. Jawabannya? Mereka memiliki sukacita yang lebih besar—bukan karena bebas dari penderitaan, tetapi karena sukacita yang melampaui penderitaan. Mereka bersukacita karena diampuni, karena dikasihi, dan telah melihat keindahan mengikut Tuhan. Bagaimana dengan saudara?
